Kita Membutuhkan Agile HR Untuk Karyawan Yang Lebih Bahagia

agile hr untuk karyawan yang lebih bahagia

Table of Contents

Agile HR melihat bagaimana departemen HRD dapat menerapkan pola pikir yang cerdas dan berbagai metode dalam tim mereka. Agile HR memiliki potensi lebih untuk menemukan kembali model operasional perusahaan dan membantu memodernisasi departemen HRD serta operasinya.

Sejak 2012, “Agile HR” (Deloitte) telah muncul sebagai disiplin populer dengan tujuan memberdayakan profesional HR untuk “mengelola volatilitas, meningkatkan kemampuan beradaptasi, dan memperkuat perusahaan dengan lebih baik dengan menerapkan metodologi Agile ke proses manajemen karyawan mereka”.

Menurut HR Trend Institute, “Agile HR” mengacu pada:

  • cara bekerja dan mengatur fungsi departemen HRD yang memfasilitasi daya tanggap dan adaptasi aktivitas dan struktur,
  • memfasilitasi fleksibilitas dalam menyesuaikan fluktuasi tenaga kerja sesuai dengan permintaan, dan
  • cara departemen HRD mendukung perusahaan menjadi lebih responsif dan adaptif.

Dengan ini, fokus tradisional departemen HRD yaitu kontrol dan penyelarasan telah bergeser ke fokus pada kecepatan respons. Departemen HRD saat ini tidak lagi hanya menerapkan kontrol dan standar. Mereka juga harus memfasilitasi program dan strategi yang dapat meningkatkan ketangkasan, inovasi, kolaborasi, dan meningkatkan pengambilan keputusan perusahaan.

Pendekatan Yang Bisa Diterapkan

  • Karyawan diberi banyak sekali kesempatan untuk belajar, mengembangkan diri mereka sendiri tanpa tergantung pada tujuan spesifik yang terkait dengan pekerjaan
  • Perusahaan berinvestasi pada merek perusahaan mereka dan memupuk hubungan berkelanjutan dengan para karyawan atau calon karyawan di berbagai saluran
  • Departemen HRD memfasilitasi manajemen karyawan, yang memberdayakan karyawan untuk mengambil kredit atas pengembangan diri mereka sendiri. Karyawan memahami dan aktif dalam proses akuisisi, evaluasi, dan pengembangan bakat
  • Semua pekerjaan secara langsung mendukung misi dan nilai-nilai perusahaan, dan semua karyawan memahami bagaimana kinerja di tempat kerja mereka mendukung elemen-elemen budaya perusahaan ini.
  • Inisiatif skala kecil diujicobakan dalam tim, kelompok pekerjaan, atau unit bisnis tertentu. Umpan balik dikumpulkan sejak awal dan seringkali digunakan untuk menentukan apakah inisiatif harus diperluas atau dibatalkan
  • Fungsi departemen HRD berfokus pada keterlibatan karyawan untuk meningkatkan motivasi diri dan mendorong kolaborasi. Mengukur kesuksesan departemen HRD berdasarkan retensi, tingkat kepuasan karyawan, tingkat inovasi, dan niat baik dan kepercayaan kepada perusahaan

Pola pikir Agile HR adalah tentang bagaimana departemen HRD melihat karyawan sebagai pelanggan mereka. Dengan pola pikir ini, departemen HRD akan melakukan yang terbaik untuk membantu karyawan agar sukses dalam pekerjaannya. Hal ini juga menciptakan kebutuhan untuk merancang kerja departemen HRD yang berpusat pada manusia yang dapat divalidasi oleh karyawan sendiri melalui umpan balik langsung.

Semua ini berarti pola pikir Agile HR lebih dari sekedar Post-it, papan scrum, dan beberapa stand-up harian atau mingguan. Hal ini tentang benar-benar keluar dari tradisi yang mengikuti praktik terbaik HRD dan merangkul pendekatan tes dan belajar untuk memberikan nilai.

Dapatkan informasi terbaru mengenai HR dan Payroll dengan berlangganan newsletter