Kalau bicara soal HRD, sering muncul pertanyaan klasik: HRD itu sebenarnya bela siapa, sih? Manajemen atau karyawan?
Banyak yang merasa HRD selalu memihak bos, tapi di sisi lain, ada juga yang bilang HRD ada untuk melindungi karyawan. Tapi jawaban yang lebih tepat sebenarnya bukan memilih salah satu, melainkan bagaimana HRD bisa menjalankan peran secara adil dan strategis. Mari kita bahas lebih dalam.
HRD sebagai Penjaga Keseimbangan
Ibarat wasit di pertandingan sepak bola. Tugasnya bukan membela salah satu tim, melainkan memastikan permainan adil sesuai aturan. Sama seperti HRD yang harus memastikan kebijakan perusahaan berjalan, tapi juga menjaga agar hak-hak karyawan tetap terlindungi.
HRD Sebagai Wakil Manajemen
Di satu sisi, HRD tentu punya tanggung jawab besar untuk memastikan perusahaan bisa berjalan sesuai strategi manajemen. Mulai dari rekrutmen yang tepat, pengelolaan kinerja, sampai menjaga kepatuhan terhadap aturan ketenagakerjaan. HRD berfungsi sebagai “mata dan telinga” manajemen dalam melihat bagaimana budaya kerja dan operasional dijalankan di lapangan.
Kalau HRD terlalu longgar, perusahaan bisa rugi. Tapi kalau terlalu kaku, suasana kerja jadi kering dan penuh tekanan. Maka, peran HRD di sini adalah menyeimbangkan visi bisnis dengan kenyamanan tim.
HRD Sebagai Pendukung Karyawan
Di sisi lain, karyawan juga butuh merasa didengar. HRD bukan hanya tempat mengurus cuti, gaji, atau komplain semata. Lebih dari itu, HRD adalah wadah aspirasi. Ketika karyawan merasa aman menyampaikan ide atau masalah, produktivitas pun meningkat.
Bayangkan kalau HRD hanya dianggap sebagai “kepanjangan tangan bos,” pasti karyawan akan enggan terbuka. Padahal, keterbukaan inilah yang bisa membantu perusahaan berkembang.
Menjadi Netral Bukan Hal Mudah
Posisi HRD memang tricky. Kalau terlalu condong ke manajemen, karyawan bisa merasa tidak didengar. Sebaliknya, kalau terlalu berpihak ke karyawan, manajemen bisa merasa perusahaan terganggu. Tugas utamanya adalah mencari titik temu, bagaimana kebutuhan karyawan bisa sejalan dengan target bisnis.
Contohnya, program pelatihan. Dari sisi manajemen, pelatihan bisa meningkatkan skill yang relevan untuk mencapai target perusahaan. Dari sisi karyawan, pelatihan juga berarti kesempatan berkembang dan membuka jalan karier lebih luas. Dua kepentingan yang berbeda, tapi sebenarnya bisa sejalan jika HRD merancangnya dengan tepat.
Teknologi Membantu HRD Jadi Lebih Objektif
Peran menyeimbangkan ini tidak mudah kalau hanya mengandalkan cara konvensional. Data bisa bias, informasi bisa terlewat, dan keputusan bisa kurang objektif. Di sinilah HRD butuh dukungan teknologi.
Dengan sistem HR dan payroll modern, HRD bisa bekerja lebih cepat, transparan, dan adil. Mulai dari pengelolaan absensi digital, perhitungan gaji dan potongan otomatis, hingga penyimpanan data karyawan yang rapi. Semua memudahkan HRD untuk mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.
Kesimpulan
Jadi, HRD sebenarnya berpihak ke siapa? Jawabannya: HRD berpihak pada keseimbangan.
Tugas HRD adalah memastikan perusahaan tumbuh sehat tanpa melupakan kesejahteraan karyawan. Dengan dukungan teknologi seperti HRMLabs, HR bisa lebih mudah menjaga posisi netral sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara karyawan dan manajemen.
Kelola HRD lebih simpel dan bebas drama dengan HRMLabs. Yuk, buktikan sendiri bagaimana sistem kami bisa bikin pekerjaan HRD jauh lebih mudah!
