Memasuki tahun 2026, banyak perusahaan di Indonesia memulai tahun dengan semangat yang sama: target dinaikkan, KPI diperketat, strategi diperluas, dan pertumbuhan diharapkan lebih agresif dari tahun sebelumnya.
Ruang meeting penuh dengan angka. Dashboard penuh proyeksi. Timeline makin ketat.
Namun di tengah semua perencanaan itu, ada satu pertanyaan penting yang sering tidak ditanyakan:
Apakah karyawan sudah siap menjalankan target baru tersebut?
Karena pada akhirnya, target bukan hanya soal strategi bisnis tapi juga soal kesiapan manusia yang menjalankannya setiap hari.
Bagi HR, ini bukan sekadar pertanyaan tambahan, justru ini adalah pertanyaan utama.
Setiap Awal Tahun Target Selalu Naik Tapi Kapasitas Tim Jarang Dicek Ulang
Menaikkan target di awal tahun adalah hal yang wajar. Perusahaan ingin bertumbuh. Manajemen ingin mendorong performa. Itu sehat.
Namun yang sering terjadi, penentuan target lebih banyak didasarkan pada:
- hasil tahun sebelumnya
- tekanan pasar
- rencana ekspansi
- keinginan meningkatkan profit
- perbandingan dengan kompetitor
Sementara evaluasi kondisi tim saat ini sering tidak dibahas sedalam itu.
Padahal ada banyak faktor yang seharusnya ikut dilihat, misalnya:
- apakah beban kerja tahun lalu sudah terlalu berat
- apakah tim sering lembur
- apakah banyak karyawan menunda cuti
- apakah ada tanda kelelahan kerja
- apakah jumlah orang masih cukup untuk target baru
Target naik itu biasa. Tapi kenyataannya kapasitas tim tidak otomatis ikut naik.
Masalahnya: Awal Tahun Justru Periode HR Paling Sibuk
Kalau dilihat dari sisi HR, awal tahun bukan waktu yang santai. Justru sebaliknya — biasanya ini periode paling padat pekerjaan.
Mulai dari:
- penyesuaian gaji
- update struktur perusahaan
- kontrak baru
- administrasi karyawan
- proses payroll & pajak
- onboarding karyawan baru
- review performa tahunan
Karena fokus tersedot ke pekerjaan administratif, diskusi soal kesiapan tim menghadapi target baru sering tertunda atau bahkan terlewat.
Padahal justru di momen inilah suara HR paling dibutuhkan secara strategis.
Tanda-tanda Tim Belum Siap Biasanya Sudah Terlihat, Tapi Kurang Diperhatikan
Menariknya, sinyal bahwa tim sebenarnya sudah kewalahan biasanya bisa dilihat, hanya tidak selalu dianalisis.
Misalnya:
- Jika lembur meningkat – kemungkinan kapasitas sudah di batas.
- Jika cuti banyak tidak terpakai – tanda tidak ada ruang istirahat.
- Jika turnover naik setelah Q4 – bisa jadi tekanan kerja terlalu tinggi.
- Jika jam kerja naik tapi output tidak ikut naik – ada masalah distribusi beban.
- Jika manager terus minta tambahan orang – resource sudah menipis.
Data seperti ini bukan sekadar angka operasional. Ini adalah sinyal perlu adanya perubahan.
HR di 2026 Perlu Berbenah: Bukan Hanya Mendukung Target Perusahaan tapi Juga Mempersiapkan Manusianya
Peran HR modern tidak lagi hanya memastikan proses administrasi berjalan rapi. HR sekarang diharapkan ikut menjadi partner untuk mencapai target.
Artinya, sebelum target disahkan, HR idealnya bisa ikut menjawab:
“Apakah tim kita siap?”
Pendekatan ini sering disebut readiness-driven HR, bukan hanya target-driven. Fokusnya bukan hanya ke angka hasil, tapi ke kemampuan sistem dan manusia untuk mencapainya.
Ini akan membuat diskusi mengenai target jadi lebih realistis dan terukur.
Masalah Umum di Perusahaan: Data HR Ada, Tapi Terpisah-Pisah
Banyak perusahaan sebenarnya punya data yang dibutuhkan — tapi tersebar di banyak tempat:
- absensi di satu sistem
- lembur di file lain
- cuti di spreadsheet
- payroll di software berbeda
- jadwal di dokumen terpisah
Akibatnya, HR sulit melihat gambaran besar. Analisis jadi lambat. Keputusan jadi berbasis asumsi.
Padahal kalau data ini terintegrasi, HR bisa dengan cepat melihat:
- tren beban kerja
- pola lembur
- penggunaan cuti
- beban operasional per tim
- retensi karyawan
Dan dari situ, kesiapan tim bisa dinilai lebih objektif.
Sistem HR & Payroll Terintegrasi Jadi Pembeda
Agar HR bisa naik level secara strategis, fondasi operasionalnya harus kuat dulu. Proses manual yang menyita waktu perlu dikurangi.
Sistem HR & payroll terintegrasi membantu dengan:
- absensi online
- perhitungan lembur otomatis
- integrasi absensi dan payroll
- dashboard data karyawan
- jadwal kerja dan ijin yang mudah diakses
Dengan sistem seperti HRMLabs, HR tidak lagi habis waktu mencari dan mengumpulkan data, tapi bisa langsung membaca dan menggunakannya untuk pengambilan keputusan.
Dari administratif menjadi jadi strategis.
Sebelum Kejar Target 2026, Mulai dengan Pertanyaan yang Tepat
Sebelum mendorong tim berlari lebih cepat di 2026, ada baiknya perusahaan berhenti sejenak dan bertanya:
- Apakah tim kita cukup orangnya?
- Apakah bebannya realistis?
- Apakah prosesnya sudah efisien?
- Apakah datanya mendukung?
- Apakah HR bisa memantau?
Target tinggi itu bagus. Tapi target yang realistis dan didukung sistem yang tepat jauh lebih hebat.
Penutup: Target Tinggi Perlu Tim yang Siap, Bukan Hanya Strategi yang Matang
Di tahun 2026, perusahaan yang unggul bukan hanya yang targetnya paling ambisius, tapi yang paling siap menjalankannya.
Dan kesiapan itu tidak terjadi secara instan. Ia perlu data, sistem, dan peran HR yang kuat.
Dengan dukungan sistem HR dan payroll terintegrasi seperti HRMLabs, perusahaan bisa mendapatkan data yang lebih jelas, mengurangi beban administratif, dan membantu HR fokus memastikan kesiapan tim, bukan sekadar memberi teguran.
Karena pada akhirnya, target tidak dicapai hanya dengan angka-angka tetapi oleh manusia yang didukung sistem yang tepat.
Dukung bisnis kamu dengan Sistem HR dan Penggajian dari HRMLabs Indonesia yang terjangkau, fleksibel dan didukung oleh Customer Support yang berpengalaman. Hubungi HRMLabs Indonesia sekarang!
